Postingan Saya

Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Insani Berdaya Saing Global



Oleh: Habibullah Al Amnur


Ada dua aspek pokok penting, yaitu sumber daya alam (natural resources) dan sumber daya manusia (human resources) dalam menentukan keberhasilan pembangunan dan pengembangan suatu organisasi atau institusi, termasuk dalam hal ini bagi pengembangan perbankan syariah di Indonesia. Dari dua sumber daya tersebut, jelas sekali bahwa sumber daya manusia merupakan sumber daya yang paling penting, karena bagaimanapun melimpahnya sumber daya alam tanpa adanya kemampuan sumber daya manusia untuk mengelolanya, maka pertumbuhannya akan terlambat. 

Sumber daya manusia adalah  individu yang mampu dan memiliki keahlian tertentu untuk mencapai tujuan organisasi. Hal tersebut dikemukakan oleh Werther dan Davis dalam Muhammad (2012: 4). Sumber daya manusia merupakan seperangkat kemampuan dari daya pikir serta daya fisik yang dimiliki individu (Hasibuan dalam Muhammad, 2013). Menurut Asnaini (2008), salah satu penyebab perbankan syariah di Indonesia sulit untuk maju adalah ketidaksesuaian sumber daya manusia dengan pasar tenaga kerja.

Laporan United Nations Development Programme (UNDP), dalam Human Development Report, 2003 tentang kualitas pembangunan manusia, dari 174 negara, Indonesia berada pada peringkat ke-112. Sementara Singapura mencapai peringkat ke-28, Brunei Darussalam ke-31, Malaysia ke-58, Tailand ke-74, dan Filipina ke-85. Selain itu kemudahan untuk berusaha di Indonesia pada tahun 2005-2006 berada di peringkat ke-135 dari 175 negara (International Finance Corporation (IFC) dan Bank Dunia). Dan apabila kita telusuri, maka fnalnya, bahwa keterpurukan di indonesia saat ini bersumber dari rendahnya mutu SDM yang ada di berbagai sektor, pemerintah maupun swasta. Fakta ini, adalah alasan yang cukup kuat untuk mengatakan pentingnya manajemen SDM di bumi Indonesia saat ini, terkhusus lagi bagi perbankan syari’ah yang tergolong masih belum lama di Indonesia.

Dua negara, yakni Inggris dan Singapura tidak memiliki sumber daya alam yang relatif cukup, akan tetapi keduanya telah mencapai tingkat kemajuan teknologi dan jasa yang luar biasa bila dibandingkan dengan negara-negara yang memiliki sumberdaya alam yang melimpah. Ada dua aspek penting dalam masalah sumber daya manusia, yakni kuantitas dan kualitas. Kuantitas menyangkut jumlah sumber daya manusia (penduduk) yang kurang penting kontribusinya dalam pembangunan dibandingkan dengan aspek kualitas. Bahkan, kuantitas sumber daya manusia tanpa disertai dengan kualitas yang baik akan menjadi beban suatu bangsa. Oleh sebab itu, untuk kepentingan akselerasi pembangunan lembaga keuangan syariah, peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia merupakan suatu keharusan.

Contohnya saja, seperti Inggris walaupun negara sekuler dan mayoritas beragama Kristen, namun, disana banyak sekali berdiri bank syariah dan kualitas SDM disanapun sangat bagus sekali dalam pengembangan perbankan syariah.Hal ini dibuktikan banyaknya para sumber daya manusia yang belajar terkait perbankan syariah ke Inggris. Industri perbankan syariah bisa berkembang dengan sedemikian pesatnya di Inggris karena komitmen sistem tersebut pada pengentasan kemiskinan, penegakan keadilan dalam pertumbuhan ekonomi, penghapusan riba (tanpa bunga), pelarangan spekulasi mata uang yang berdampak terciptanya iklim perekonomian yang sehat dan stabil, dan sistem bagi hasil sehingga tidak mengalami spread sebagaimana yang dialami ole bank-bank konvensional. Dengan begitu, para pelaku ekonomi tidak terbatas hanya pada kalangan atas saja, kalangan kecil pun bisa “bermain” di pasar ekonomi dunia.

“Keuangan Islam menarik bagi mereka yang setuju dengan prinsip-prinsip yang mendasari pemerataan dan perdagangan yang adil,” kata Kepala Divisi Penjualan dan Pemasaran Ritel di Al Rayan Bank Tim Sinclair seperti dikutip dalam Republika.

Jadi, salah satu alasan utama perbankan syariah tidak dapat berkembang pesat di Indonesia adalah kualitas sumber daya manusia di Indonesia masih rendah. Hal itu ditandai dengan minimnya pengetahuan tentang perbankan syariah tersebut. 

A. Karakteristik SDM berbasis Syariah

Karakteristik SDM berbasis syariah menurut Rukiah (2015) terdapat 3 karakteristik, yaitu:

1. Kafa’ah Cakap)
Jika Sumber Daya Insani ahli atau cakap dibidang pekerjaannya maka hasil pekerjaan yang diperolehnya akan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh organisasinya.

2. Himmatul-‘amal (Etos Kerja) 
Sumber Daya Insani memiliki etos kerja yang tinggi. Islam mendorong setiap muslim untuk selalu bekerja keras serta bersungguh-sungguh mencurahkan tenaga dan kemampuannya dalam bekerja. 
Adapun hadis yang mendukung karakteristik himmatul-‘amal adalah “Tidaklah seorang diantara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan dari hasil keringatnya sendiri.” (HR. Baihaqi).

3. Amanah (Dapat Dipercaya)
Selain memiliki kecakapan (kafa’ah) dan sifat himmatul-‘amal, seseorang dikatakan profesional jika dia selalu memili sifat amanah, Banyak orang yang ahli serta memiliki etos kerja yang tinggi, tapi karena tidak memiliki sifat amanah, justru memanfaatkan keahliannya untuk melakukan berbagai tindak kejahatan. “Rasulullah saw. memerintahkan setiap muslim untuk selalu menjaga amanah yang diberikan kepadanya” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Setiap perusahaan pastinya membutuhkan orang-orang yang berkompeten untuk memajukan perusahaannya dan mencapai tujuan organisasi tersebut. Dalam lingkup yang luas, human capital yang didefinisikan sebagai seperangkat keterampilan, keahlian, dan pengetahuan sekelompok orang, merupakan penentu utama pertumbuhan ekonomi saat ini. Oleh karena itu, perusahaan harus melakukan pengembangan kompetensi secara sistematis. Kompetensi adalah orang seperti apa dan apa yang dapat mereka lakukan, bukan apa yang mungkin mereka lakukan (R. Palan dalam Muhammad, 2003: 14). Sedangkan menurut John dkk dalam Muhammad (2008: 16) kompetensi adalah kecakapan dan keberdayaan merujuk pada keadaan atau kualitas mampu dan sesuai. Jadi, kompetensi adalah seperangkat keahlian yang menunjang kinerja seseorang agar tujuan organisasi dapat tercapai.

B. Karakteristik kompetensi

Menurut Spencer dan Mitrani dalam Muhammad (2016) terdapat lima (5) karakteristik kompetensi, yaitu:

1. Motives 
Motives adalah sesuatu dimana seseorang secara konsisten berfikir sehingga ia melakukan tindakan. 

2. Traits
Traits adalah watak yang membuat orang untuk berperilaku atau bagaimana seseorang merespon sesuatu dengan cara tertentu seperti percaya diri, kontrol diri, kekuatan melawan ketegangan, ketabahan atau daya tahan 

3. Self-Concept 
Self-concept adalah sikap dan nilai-nilai yang dimiliki seseorang. 

4. Knowledge 
Knowledge adalah informasi yang dimiliki seseorang untuk bidang tertentu. Pengetahuan merupakan kompetensi yang kompleks. 

5. Skills
Skills adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu baik secara fisik maupun secara mental.

C. Pengembangan SDM menurut Islam

Istilah “pembangunan sumber daya manusia”, “pembangunan sumber daya insani”, dan “pembangunan akhlak manusia” menjadi amat populer dan menjadi kiblat kebijakan dalam proses pembangunan di Indonesia (Asnaini, 2008). 

Dalam surat at-Tiin dalam ayat 5 dan 6: 
“Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya; kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. 
Dalam ayat lain juga disebutkan: 
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: ”Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Berdasarkan ayat di atas, maka manusia yang paling baik dan tinggi derajatnya adalah manusia yang beriman, beramal shaleh dan berilmu. 

D. Pentingnya Pengembangan Kompetensi SDM Perbankan Syariah

Faktor-faktor penyebab pentingnya mutu SDM perbankan Syari’ah, adalah sebagai berikut:

1. Prospek Perbankan Syariah Semakin Menjanjikan

Perbankan syariah dengan perbankan konvensional semakin hari tampaknya semakin bagus. Karena volume transaksi masih kecil dibanding perbankan konvensional tetapi menunjukkan tren kenaikan dan nasabah pun kian hari makin bertambah.

2. Penerapan Bagi Hasil Masih Belum Optimal

Banyak SDM yang merupakan pengalihan dari bank konvensional. Hal ini mengakibatkan penerapan sistem “bagi hasil” (musyarakah atau murabahah) agak ditinggalkan.

3. Perlunya SDM Handal

Perbankan syariah di Indonesia perlu memiliki sumber daya manusia (SDM) handal yang mampu memahami prinsip-prinsip kesyariahan. Selama ini masih banyak Sumber Daya Insani di perbankan syariah berasal dari bank konvensional sehingga kondisi itu menyebabkan penerapan sistem bagi hasil (murabahah) agak ditinggalkan, semua perbankan syariah di Indonesia hingga sekarang memang belum banyak yang menerapkan prinsip syariah. Hal itu perlu menjadi pemicu perbankan syariah untuk memiliki SDM andal yang memahami prinsip syariah. Pelatihan SDM perbankan syariah sudah saatnya ditingkatkan untuk mewujudkan sistem perbankan syariah yang benar.

4. Perbankan syariah kekurangan SDM

Kebutuhan SDM untuk bank syariah mencapai 40.000 orang per tahun, sementara lulusan ekonomi syariah sangat terbatas, minimnya stok lulusan perguruan tinggi yang paham dengan ekonomi syariah membuat sebagian bank khususnya yang membuka office channeling memilih mentransfer pegawai dari bank konvensional. Ini menjadi langkah instan, yang sebenarnya tidak bagus.

E. Upaya Pengembangan dan Peningkatan Kompetensi SDM Perbankan Syariah

Terdapat beberapa macam cara agar kompetensi sumber daya manusia (SDM) atau sumber daya insane (SDI) dapat mempunyai kompetensi berdaya saing global, yaitu:

1. Komitmen dari Pemerintah

Tidak ada alasan lagi bagi pemerintah untuk melalaikan pendidikan rakyat, karena pendidikan dan peningkatan mutu SDM bangsa ini adalah amanat konstitusi. Melanggar konstitusi adalah dosa. Dan itu akan membawa kesengsaraan berkepanjangan. Oleh karena itu semua pihak wajib mendukung upaya-upaya pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu SDM Indonesia. Pemerintah harus mempunyai strategi yang handal dalam meningkatkan mutu SDM yang ada. Pemerintah harus mempunyai komitmen dalam menegakkan konstitusi yang telah ditetapkan.

2. Pengembangan Kurikulum Ekonomi Islam

Kurikulum terkait ekonomi Islam harusnya dipupuk sedari pendidikan dini. Karena, pembentukan karakter seseorang manusia itu adalah sedari kecil dan apabila ia telah dewasa maka ia dapat mengetahui bahwa riba haram hukumnya dalam Islam. Harus adanya kurikulum berjenjang sejak Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT) yang disusun secara komprehensif.

3. Pengembangan Pendidikan Tinggi Ekonomi Islam

Perguruan Tingggi Islam baik Negeri maupun Swasta mempunyai peluang yang besar dan sama untuk mengadakan pengembangan-pengembangan kelembagaan, mendirikan fakultas atau jurusan ekonomi Islam dengan berbagai program studi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar perbankan syari’ah. Oleh karena itu pengembangan kelembagaan perguruan tinggi ini tidak akan sukses bila tidak bekerjasama dengan pemerintah (dalam hal ini Diknas dan Depag), yang biasanya menyangkut hal-hal yang bersifat administratif, seperti perizinan; dunia perbankan (sebagai pemakai); dan perguruan tinggi (sebagai penyelenggara). Tiga komponen ini harus bekerja sama dan bersungguh-sungguh, agar output yang dihasilkan berkompeten.

4. Orientasi Kompetensi 

Pengembangan sumber daya manusia merupakan hal yang wajib dilakukan. Tugas awal yang harus dilakukan para pemimpin adalah seleksi calon pegawai guna menempati pos-pos pekerjaan yang telah ditetapkan. Pemilihan karyawan merupakan aktivitas kunci untuk menentukan jalannya sebuah perusahaan. Maka para pemimpin harus selektif dalam memilih calon pegawai, mereka adalah orang yang berkompeten, memiliki pengetahuan luas, rasa tanggung jawab dan dapat dipercaya.

5. Melaksanakan Diklat

Perguruan Tinggi dapat bekerja sama denga Bank Indonesia dapat mengadakan pelatihan-pelatihan bagi semua pihak yang berhubungan dengan perbankan Syari’ah. Pelatihan-pelatihan ini penting artinya dalam memenuhi target dalam jangka pendek. Sedangkan dalam jangka panjang yang harus dilakukan adalah: Mengembangkan kerja sama (BI, BS & PT), mengkaji Kurikulum Ekonomi Islam.


Kesimpulan

Dari rangkaian tulisan diatas, penulis dapat menyyimpulkan bahwa salah satu alasan utama perbankan syariah tidak dapat berkembang pesat di Indonesia adalah kualitas sumber daya manusia di Indonesia masih rendah. Hal itu ditandai dengan minimnya pengetahuan tentang perbankan syariah tersebut. 

Dalam surat at-Tiin dalam ayat 5 dan 6: 

“Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya; kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. 
Dalam ayat lain juga disebutkan: 

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: ”Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Berdasarkan ayat di atas, maka manusia yang paling baik dan tinggi derajatnya adalah manusia yang beriman, beramal shaleh dan berilmu. 
Upaya peningkatan kompetensi Sumber Daya Insani di Indonesia ada beberapa cara:
1. Komitmen dari Pemerintah
2. Pengembangan Kurikulum Ekonomi Islam
3. Pengembangan Pendidikan Tinggi Ekonomi Islam
4. Orientasi Kompetensi 
5. Melaksanakan Diklat

DOWNLOAD LAMPIRAN

Tugas Akhir: Essay Manajemen Perbankan Syariah by Habibullah Al Amnur on Scribd


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Habib Amnur Designed by Templateism | Blogger Templates Copyright © 2014

Gambar tema oleh richcano. Diberdayakan oleh Blogger.