Postingan Saya

Krisis Ekonomi Dalam Dinamika Dunia Perbankan Syariah Indonesia dan Perkembangan Bank Syariah dalam memajukan UMKM


Oleh: Rio Aprianto

Krisis Ekonomi yang melanda Indonesia pada akhir tahun 1997 telah mengguncang hampir di seluruh aspek perekonomian di Indonesia termasuk dalam sektor perbankan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya bank-bank yang mengalami likuiditas karena kredit macet namum hal ini tidak dialami oleh perbankan syariah. Walaupun perbankan syariah di Indonesia baru lahir pada tahun 1992 dan Bank Syariah pertama yang bersiri ialah Bank Muamalat.       

Perkembangan perbankan syariah di Indonesia telah memasuki babak baru. Pertumbuhan industri perbankan syariah yang kini telah beroperasi 3 bank umum syariah, 25 Unit Usaha Syariah dan 107 Bank Perkreditan Rakyat, telah bertranformasi dari hanya sekedar memperkenalkan suatu alternatif praktik perbankan syariah menjadi bagaimana bank syariah menempatkan posisinya sebagai pemain utama dalam percaturan ekonomi di tanah air. Bank syariah memiliki potensi besar untuk menjadi pilihan utama dan pertama bagi nasabah dalam pilihan transaksi mereka. Hal itu ditunjukkan dengan akselerasi pertumbuhan dan perkembangan perbankan syariah di Indonesia.

Setelah diakomodasinya Bank Syariah pada Undang-Undang Perbankan No. 10/1998, maka dari tahun 2000 hingga tahun 2004, dapat dirasakan pertumbuhan Bank Syariah cukup tinggi, rata-rata lebih dari 50% setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 2003 dan 2004, pertumbuhan Bank Syariah melebihi 90% dari tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, pada tahun 2005, dirasakan ada perlambatan, meskipun tetap tumbuh sebesar 37%. Akan tetapi, walaupun dirasakan pertumbuhan Bank Syariah di Indonesia melambat pada tahun 2005, sebenarnya pertumbuhan sebesar itu merupakan prestasi yang cukup baik. Perlu disadari, bahwa di tengah tekanan yang cukup berat terhadap stabilitas makroekonomi secara umum dan perbankan secara khusus, kondisi industri perbankan syariah tetap memperlihatkan peningkatan kinerja yang relatif baik. Di samping itu, dapat pula difahami, bahwa meskipun share bank syariah pada akhir tahun 2005 baru 1,46%, namun hal tersebut telah menunjukkan peningkatan yang luar biasa dibandingkan share pada tahun 1999 yang hanya 0,11%.

Ditahun 2010 Aset perbankan syariah pada tahun 2010 tumbuh 47 persen dan mencapai Rp100,26 triliun,ditahun selajutnya 2011 mencapai 23,5 % dan ditahun ini tahun 2016/2017 mencapai mencapai 20,28 % mengalami yang sangat signifikan dari tahun sebelumnya,market share ditahun ini hanya 5,33 % dari hal market share perbankan syariah masih jauh tertinggal dengan perbankan konvesional yang mencapai 94,67 %.

Bank Indonesia dan para stakeholder yang terlibat lainnya yakin bahwa  pengembangan Bank Syariah dianggap masih mempunyai prospek yang tinggi, jika kendala jaringan dapat diatasi. Hal tersebut diyakini karena peluang yang besar dan dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut:

1. Respon masyarakat yang antusias dalam melakukan aktivitas ekonomi dengan menggunakan prinsip-prinsip Syariah;
2. Kecenderungan yang positif di sektor non-keuangan/ ekonomi, seperti system pendidikan, hukum dan lain sebagainya yang menunjang  pengembangan ekonomi Syariah nasional.
3. Pengembangan instrumen keuangan Syariah yang diharapkan akan semakin menarik investor/ pelaku bisnis masuk dan membesarkan industri Perbankan Syariah Nasional;
4. Potensi investasi dari negara-negara Timur Tengah dalam industri 

Salah satu aspek yang paling mempengaruhi perkembangan perbankan syariah yakni melalui pengembangan instrumen keuangan syariah dan penerapanya melalui jasa-jasa yangdiberikan baik fungsinya sebagai Penghimpun Dana maupun Penyalur dana masyarakat. 

Dalam kegiatannya, Perkembangan sebuah bank dapat dilihat dari Analisis Laporan Keuangannya tidak terkecuali dalam dunia perbankan syariah  Sebuah bank dinilai berkembang apabila terjadi peningkatan terhadap aktiva dan minimnya kredit bermasalah. 

Salah satu prinsip ekonomi syariah dalam penerapan dalam sektor Investasi hanya boleh diberikan pada usaha- usaha menengah kecil makro UMKM yang sangat bergantung kepada pembiayaan dari bank syariah.

Telah menjadi pengetahuan banyak pihak bahwa peran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam perekonomian Indonesia begitu penting. Sektor UMKM nasional dikenal memiliki karakteristik positif seperti sektor yang menyerap tenaga kerja yang besar, mengakomodasi peran masyarakat miskin dan dominan dalam struktur ekonomi. Berdasarkan data terakhir yang diperoleh, sektor tersebut memiliki jumlah pelaku usaha yang mencapai 51,3 juta unit usaha atau memiliki kontribusi sebesar 99%! Menyerap tenaga kerja 90,9 juta pekerja (97%)! Menyumbang PDB sebesar Rp2.609 triliun (55,6%)! Serta memberikan sumbangan devisa sebesar Rp183,8 triliun (20%) hal ini sangat membawa angin segar bagi indonesia yang menargetkan banyak UMKM yang akan didirikan untuk meningkatkan sektor perekonomian didaerah-daerah yang masih terpencil dan belum stabil perekonomiannya.

UMKM merrupakan ladang pendapatan bagi masyarakat yang tidak mampu mendirikan usaha dengan modal yang banyak,UMKM juga merupakan jawaban bagi masyarakaat yangtidak memiliki modal yang cukup banyak dalam mengembangkan pemikirannnya dalam bidang bisnis untuk memenuhu kebutuhannya sehari-hari. Hal ini harus ditunjang dengan kemudahaan dalam pembiayaan dan UMKM juga memerlukan biaya yang cukup untuk memulai usahannya. Bank syariah hadir dengan keberkahan yang lebih bagi sipeminjam dana, tidak terlalu diberatan dengan beban bungan yang sama hal nya dengan memakan uang riba,terus terang dalam al-qur’an Allah Swt menyebutkan bahwa riba perbuatan yanag dibenci ole Allah dan rasulnya,riba merupakan mengambil hak milik orang lain untuk kepeningan pribadi atau kelompok. Bank syariah menawarkan berbagai jasa keuangan yang diridhoi Alllah Swt dan sesuai syariat islam.

Hal ini akan menjadi keberkahan bagi pengusaha UMKM agar hartanya tetap halal dan tidak mendekati riba,selain itu dibank syariah memberikan pelayanan yang aman nyaman dan sangat dimudahkan sesuai akad/perjanjian banyak jenis produk yang ditawarkan bank syariah mulai dari Mudharabah,hawalah,iajrah,kafalh dll.Semua sesuai dengan konsep islam dan hukum islam hal ini juga ditambah dengan berkembangnya UMKM diindonesia .

UMKM juga merupakan solusi untuk membangun perekonomian di Indonesia, banyak produk Indonesia yang beredar di nasional maupun mancanegara juga akan menambah jumlah kesejahteraan masyarakat juga otomatis akan berdampak terciptanya pembangunan yang mapan. Dalam hal ini peran bank syariah sangatlah penting membangun pertumbuhan UMKM di Indonesia Selama ini langkah dari Bank Syariah telah memberikan semangat dan dorongan terhadap terujut dan terbangunnya semangat para masyarakat Indonesia yang berasal dari kalangan menengah kebawah yang ingin mencoba ikut serta dalam upaya meujutkan perekonomian bangsa yang berorientasi kedepan dan bermasa depan yang jelas yang sesuai dengan harapan masyarakat kecil pada umumnya. Itu semua telah diujutkan dengan upaya pengembangan Usaha Kecil Menengah yang benar- benar mengembangakan potensi ekonomi yang ada dalam tubuh masyarakat itu sendiri.

Bank syariah juga memberikan kemudahan dalam penggunaan metode keuagan dengan system bagi hasil yang sangat diwajibkan dalam islam selain itu bank syariah juga memberikan ijarah atau peminjaman dana tanpa panjaran atau jaminan hal sesuai dengan hukum islam yang tak boleh mengambil hak milik orang lain atau sering disebut riba. Banyak kemudahan yang diberikan bank syariah kepada UMKM hal lain juga ada program mensejahterakan masyarakat kecil penyaluran dana bantuan dana untuk masyarakat kecil dibantu oleh kelompok-kelompok yang sudah dibentuk didaerah masing-masing.

Bagi perbankan syariah penyaluran dana ke UMKM lebih diutamakan dari sector non UKM kaeran sector UMKM memilki ketahanan bisnis yang cukup lama ketimbang sector non UKM . hal ini menjadi alasan kuat bank syariah mampu memberikan kepercayaan lebih kepada sector UMKM dalam mengembangkan usahanya selain itu pemerintah juga memberikan dana yang cukup banyak kepada UMKM, kucuran dana ini betujuan mendorong pelaku UMKM mengembangkan bisnisnya dan otomatis memajukan perekonomian Indonesia.

Pemerintah harus memperbaiki permasalahan bank syariah guna memajukan sector UMKM antara lain :

1. Aspek teknologi, masih banyak keluhan konsumen karena belum banyaknya kemudahan teknologi yang diberikan bank syariah kepada konsumen antara lain;masih kurangnya ATM dan mobile banking seperti kemajuan bank konvensional tidak diikut sertai dengan perbankan syariah, harapannya agar perbankan syariah diindonesia memperhatikan aspek ini agar nasabah juga nyaman dalam mengguanakan jasa bank syariah dari yang memakai bank konvesional beralih ke bank syariah.

2. Standar operasi yang jelas,masih banyak bank syariah yang kurang menjelaskan standar operasi baik secara nasional maupun internasional apalagi sekarang sudah memasuki MEA Bank syariah juga harus bias bersaing dengan bank konvensional dalam bidang ini agar terciptanya kenyamanan yang cukup baik untuk menarik nasabah baik dalam maupun luar negeri.

3. Perlu adanya aliansi yang cukup untuk membantu bank syariah dalam mengembangkan kinerjanya.

4. Membuat sistem pengaturan dan pengawasan berbasis risiko yang dapat mendorong ke arah terbentuknya self-regulatory system, dengan dukungan IT dan SDM yg memadai.

5. Menerapkan mekanisme dan harmonisasi pengawasan prinsip syariah dalam industri perbankan syariah dan lembaga keuangan syariah non-bank. Harmonisasi antar lemabaga keuangan syariah itu penting baik yang bergerak pada industri perbankan maupun industri non perbankan karena prinsip dari hadir nya kedua lembaga itu tidak lain untuk bertransaksi sesuai tuntutan syariah.

Hal ini harus segera diperbaiki Indonesia baik secara internal maupun secara eksternal tidak terlepas dari syariat-syariat islam  guna untuk  memajukan masyarakat adil,makmur,sejahtera yang diridhoi Alllah Swt.

DOWNLOAD LAMPIRAN


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Habib Amnur Designed by Templateism | Blogger Templates Copyright © 2014

Gambar tema oleh richcano. Diberdayakan oleh Blogger.